Minggu, 03 November 2013

Tugas 2 ( Tugas Kelompok)

Kasus Manipulasi Laporan Keuangan PT KAI


Dalam kasus PT. KAI terdeteksi adanya kecurangan dalam penyajian laporan keuangan. Ini merupakan suatu bentuk penipuan yang dapat menyesatkan investor dan stakeholder lainnya. Kasus ini juga berkaitan dengan masalah pelanggaran kode etik profesi akuntansi.

Diduga terjadi manipulasi data dalam laporan keuangan PT KAI tahun 2005, perusahaan BUMN itu dicatat meraih keutungan sebesar Rp, 6,9 Miliar. Padahal apabila diteliti dan dikaji lebih rinci, perusahaan seharusnya menderita kerugian sebesar Rp. 63 Miliar. Komisaris PT KAI Hekinus Manao yang juga sebagai Direktur Informasi dan Akuntansi Direktorat Jenderal Perbendaharaan Negara Departemen Keuangan mengatakan, laporan keuangan itu telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik S. Manan. Audit terhadap laporan keuangan PT KAI untuk tahun 2003 dan tahun-tahun sebelumnya dilakukan oleh Badan Pemeriksan Keuangan (BPK), untuk tahun 2004 diaudit oleh BPK dan akuntan publik.

Hasil audit tersebut kemudian diserahkan direksi PT KAI untuk disetujui sebelum disampaikan dalam rapat umum pemegang saham, dan komisaris PT KAI yaitu Hekinus Manao menolak menyetujui laporan keuangan PT KAI tahun 2005 yang telah diaudit oleh akuntan publik. Setelah hasil audit diteliti dengan seksama, ditemukan adanya kejanggalan dari laporan keuangan PT KAI tahun 2005 :

 Pajak pihak ketiga sudah tiga tahun tidak pernah ditagih, tetapi dalam laporan keuangan itu dimasukkan sebagai pendapatan PT KAI selama tahun 2005. Kewajiban PT KAI untuk membayar surat ketetapan pajak (SKP) pajak pertambahan nilai (PPN) sebesar Rp 95,2 Miliar yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Pajak pada akhir tahun 2003 disajikan dalam laporan keuangan sebagai piutang atau tagihan kepada beberapa pelanggan yang seharusnya menanggung beban pajak itu. Padahal berdasarkan Standart Akuntansi, pajak pihak ketiga yang tidak pernah ditagih itu tidak bisa dimasukkan sebagai aset. Di PT KAI ada kekeliruan direksi dalam mencatat penerimaan perusahaan selama tahun 2005.

Penurunan nilai persediaan suku cadang dan perlengkapan sebesar Rp 24 Miliar yang diketahui pada saat dilakukan inventarisasi tahun 2002 diakui manajemen PT KAI sebagai kerugian secara bertahap selama lima tahun. Pada akhir tahun 2005 masih tersisa saldo penurunan nilai yang belum dibebankan sebagai kerugian sebesar Rp 6 Miliar, yang seharusnya dibebankan seluruhnya dalam tahun 2005.

Bantuan pemerintah yang belum ditentukan statusnya dengan modal total nilai komulatif sebesar Rp 674,5 Miliar dan penyertaan modal negara sebesar Rp 70 Miliar oleh manajemen PT KAI disajikan dalam neraca per 31 Desember 2005 sebagai bagian dari hutang. Akan tetapi menurut Hekinus bantuan pemerintah dan penyertaan modal harus disajikan sebagai bagian dari modal perseroan.

Manajemen PT KAI tidak melakukan pencadangan kerugian terhadap kemungkinan tidak tertagihnya kewajiban pajak yang seharusnya telah dibebankan kepada pelanggan pada saat jasa angkutannya diberikan PT KAI tahun 1998 sampai 2003.

Perbedaan pendapat terhadap laporan keuangan antara komisaris dan auditor akuntan publik terjadi karena PT KAI tidak memiliki tata kelola perusahaan yang baik. Ketiadaan tata kelola yang baik itu juga membuat komite audit (komisaris) PT KAI baru bisa dibuka akses terhadap laporan keuangan setelah diaudit akuntan publik. Akuntan publik yang telah mengaudit laporan keuangan PT KAI tahun 2005 segera diperiksa oleh Badan Peradilan Profesi Akuntan Publik. Jika terbukti bersalah, akuntan publik itu diberi sanksi teguran atau pencabutan izin praktek. (Harian KOMPAS Tanggal 5 Agustus 2006 dan 8 Agustus 2006).

  Kasus PT KAI di atas menurut beberapa sumber yang saya dapat, berawal dari pembukuan yang tidak sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Sebagai akuntan sudah selayaknya menguasai prinsip akuntansi berterima umum sebagai salah satu penerapan etika profesi. Kesalahan karena tidak menguasai prinsip akuntansi berterima umum bisa menyebabkan masalah yang sangat menyesatkan.

  Laporan Keuangan PT KAI tahun 2005 disinyalir telah dimanipulasi oleh pihak-pihak tertentu. Banyak terdapat kejanggalan dalam laporan keuangannya. Beberapa data disajikan tidak sesuai dengan standar akuntansi keuangan. Hal ini mungkin sudah biasa terjadi dan masih bisa diperbaiki. Namun, yang menjadi permasalahan adalah pihak auditor menyatakan Laporan Keuangan itu wajar. Tidak ada penyimpangan dari standar akuntansi keuangan. Hal ini lah yang patut dipertanyakan.

Dari informasi yang didapat, sejak tahun 2004 laporan PT KAI diaudit oleh Kantor Akuntan Publik. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang melibatkan BPK sebagai auditor perusahaan kereta api tersebut. Hal itu menimbulkan dugaan kalau Kantor Akuntan Publik yang mengaudit Laporan Keuangan PT KAI melakukan kesalahan.

Profesi Akuntan menuntut profesionalisme, netralitas, dan kejujuran. Kepercayaan masyarakat terhadap kinerjanya tentu harus diapresiasi dengan baik oleh para akuntan. Etika profesi yang disepakati harus dijunjung tinggi. Hal itu penting karena ada keterkaitan kinerja akuntan dengan kepentingan dari berbagai pihak. Banyak pihak membutuhkan jasa akuntan. Pemerintah, kreditor, masyarakat perlu mengetahui kinerja suatu entitas guna mengetahui prospek ke depan. Yang Jelas segala bentuk penyelewengan yang dilakukan oleh akuntan harus mendapat perhatian khusus. Tindakan tegas perlu dilakukan.

ANALISIS:

Menurut kami, selain akuntan eksternal dan komite audit yang melakukan kesalahan dalam hal pencatatan laporan keuangan, akuntan internal di PT. KAI juga belum sepenuhnya menerapkan 8 prisip etika akuntan. Dari kedelapan prinsip akuntan yaitu tanggung jawab profesi, kepentingan publik, integritas, objektifitas, kompetensi dan kehati-hatian profesional, kerahasiaan, perilaku profesional, dan standar teknis, prinsip-prinsip etika akuntan yang dilanggar antara lain :

1.      Tanggung jawab profesi, dimana seorang akuntan harus bertanggung jawab secara professional terhadap semua kegiatan yang dilakukannya. Akuntan Internal PT. KAI kurang bertanggung jawab karena dia tidak menelusuri kekeliruan dalam pencatatan dan memperbaiki kesalahan tersebut sehingga laporan keuangan yang dilaporkan merupakan keadaan dari posisi keuangan perusahaan yang sebenarnya.

2.      Kepentingan Publik, dimana akuntan harus bekerja demi kepentingan publik atau mereka yang berhubungan dengan perusahaan seperti kreditur, investor, dan lain-lain. Dalam kasus ini akuntan PT. KAI diduga tidak bekerja demi kepentingan publik karena diduga sengaja memanipulasi laporan keuangan sehingga PT. KAI yang seharusnya menderita kerugian namun karena manipulasi tersebut PT. KAI terlihat mengalami keuntungan. Hal ini tentu saja sangat berbahaya, termasuk bagi PT. KAI. Karena, apabila kerugian tersebut semakin besar namun tidak dilaporkan, maka PT. KAI bisa tidak sanggup menanggulangi kerugian tersebut.

3.      Integritas, dimana akuntan harus bekerja dengan profesionalisme yang tinggi. Dalam kasus ini akuntan PT. KAI tidak menjaga integritasnya, karena diduga telah melakukan manipulasi laporan keuangan.

4.      Objektifitas, dimana akuntan harus bertindak obyektif dan bersikap independen atau tidak memihak siapapun. Dalam kasus ini akuntan PT. KAI diduga tidak obyektif karena diduga telah memanipulasi laporan keuangan sehingga hanya menguntungkan pihak-pihak tertentu yang berada di PT. KAI.

5.      Kompetensi dan kehati-hatian  professional, akuntan dituntut harus melaksanakan jasa profesionalnya dengan penuh kehati-hatian, kompetensi, dan ketekunan, serta mempunyai kewajiban untuk mempertahankan pengetahuan dan keterampilan profesionalnya pada tingkat yang diperlukan. Dalam kasus ini, akuntan PT. KAI tidak melaksanakan kehati-hatian profesional sehingga terjadi kesalahan pencatatan yang mengakibatkan PT. KAI yang seharusnya menderita kerugian namun dalam laporan keuangan mengalami keuntungan.

6.      Perilaku profesional, akuntan sebagai seorang profesional dituntut untuk berperilaku konsisten selaras dengan reputasi profesi yang baik dan menjauhi tindakan yang dapat mendiskreditkan profesinya. Dalam kasus ini akuntan PT. KAI diduga tidak berperilaku profesional yang menyebabkan kekeliruan dalam melakukan pencatatanlaporan keuangan, dan hal ini dapat mendiskreditkan (mencoreng nama baik) profesinya.


7.      Standar teknis: akuntan dalam menjalankan tugas profesionalnya harus mengacu dan mematuhi standar teknis dan standar profesional yang relevan. Sesuai dengan keahliannya dan dengan berhati-hati, akuntan mempunyai kewajiban untuk melaksanakan penugasan dari penerima jasa selama penugasan tersebut sejalan dengan prinsip integritas dan obyektifitas. Dalam kasus ini akuntan tidak melaksanakan prinsip standar teknis karena tidak malaporkan laporan keuangan sesuai dengan standar akuntansi keuangan. Contohnya, pada saat PT Kereta Api Indonesia telah tiga tahun tidak dapat menagih pajak pihak ketiga. Tetapi, dalam laporan keuangan itu, pajak pihak ketiga dinyatakan sebagai pendapatan. Padahal, berdasarkan standar akuntansi keuangan tidak dapat dikelompokkan dalam bentuk pendapatan atau asset

Nama Kelompok          : 4EB22
  1.   Erma Ainun Najah       (29210487)
  2.  Intan Pemata Sari        (23210568)
  3.  Rina Wahyuni              (25210973)
  4.  Sri Mulyani                  (26210667)
  5. Verawati                      (28210356)
Sumber :

Jumat, 11 Oktober 2013

Tugas 1

Pengertian Etika
Etika (Yunani Kuno: "ethikos", berarti "timbul dari kebiasaan") adalah sebuah sesuatu dimana dan bagaimana cabang utama filsafat yang mempelajari nilai atau kualitas yang menjadi studi mengenai standar dan penilaian moral Etika mencakup analisis dan penerapan konsep seperti benar,salah, baik, buruk, dan tanggung jawab. St. John of Damascus (abad ke-7 Masehi) menempatkan etika di dalam kajian filsafat praktis (practical philosophy).
Etika adalah Ilmu yang membahas perbuatan baik dan perbuatan buruk manusia sejauh yang dapat dipahami oleh pikiran manusia.  Pengertian menurut para ahli antara lain:
·        Menurut Drs. O.P. SIMORANGKIR : etika atau etik sebagai pandangan manusia dalam berprilaku menurut ukuran dan nilai yang baik.
·        Menurut Drs. Sidi Gajalba dalam sistematika filsafat : etika adalah teori tentang tingkah laku perbuatan manusia dipandang dari segi baik dan buruk, sejauh yang dapat ditentukan oleh akal.
·        Menurut Drs. H. Burhanudin Salam : etika adalah cabang filsafat yang berbicara mengenai nilai dan norma moral yang menentukan prilaku manusia dalam hidupnya.
Menurut Aristoteles: di dalam bukunya yang berjudul Etika Nikomacheia, Pengertian etika dibagi menjadi dua yaitu, Terminius Technicus yang artinya etika dipelajari untuk ilmu pengetahuan yang mempelajari masalah perbuatan atau tindakan manusia. dan yang kedua yaitu, Manner dan Custom yang artinya membahas etika yang berkaitan dengan tata cara dan kebiasaan (adat) yang melekat dalam kodrat manusia (in herent in human nature) yang terikat dengan pengertian “baik dan buruk” suatu tingkah laku atau perbuatan manusia.
Etika Sebagai mahasiswa
Sebagai orang yang menduduki tempat paling tinggi dipendidikan kita sebagai mahasiswa harus memiliki etika yang mencerminkan orang yang berilmu dan menjadi dewasa. Misalnya :
- Mematuhi semua peraturan peraturan yang berlaku. Contoh : Tidak membuang sampah sembarangan, tidak boleh memakai celana robek, memakai pakaian yang sopan, tidah boleh merokok didalam gedung kecuali sudah disedikan tempatnya.
- Menghormati dan menghargai dosen dan sesama mahasiswa lainnya. Contoh: Memperhatiakan jika dosen sedang menerangkan, jadilah pendengar yang baik jika ada teman atau dosen yang sedang berbicara.
- Tidak berbicara atau tertawa terlalu keras karena suara kita bisa mengganggu orang lain yang ada di sekitar kita. Mengetok pintu dan mengucapkan salam kepada orang yang ada di dalam ruangan.
Etika  Sebagai Anak
Didalam Anggota keluarga etika seorang anak adalah harus patuh dan hormat kepada orang tua, , mengikuti semua peraturan yang ada di dalam rumah, selalu pamit dan izin jika mau pergi, tidak pulang sampai larut malam, berperilaku dan bertutur kata yang baik yang mencerminkan sebagai anak , berusaha menjadi yang terbaik yang dapat dibanggakan oleh keluarga, dan menjaga nama baik keluarga.
Etika Sebagai Anggota Masyarakat

Didalam masyarakat dan sebagai masyarakat kita tentu harus mempunyai etika etika yang baik, Misalnya : Menjaga perilaku kita dimasyarakat Contoh: tidak berkelahi atau tidak tauran di daerah rumah atau kampus, Saling gotong royong sesama masyarakat, berbicara dan beringkah laku yang baik, memakai pakaian yang pantas dan lain lain.

Etika Sebagai Akuntan Publik
-         Etika Profesional Profesi Akuntan Publik
Setiap profesi yang menyediakan jasanya kepada masyarakat memerlukan kepercayaan dari masyarakat yang dilayaninya. Kepercayaan masyarakat terhadap mutu jasa akuntan publik akan menjadi lebih tinggi, jika profesi tersebut menerapkan standar mutu tinggi terhadap pelaksanaan pekerjaan profesional yang dilakukan oleh anggota profesinya. Aturan Etika Kompartemen Akuntan Publik merupakan etika profesional bagi akuntan yang berpraktik sebagai akuntan publik Indonesia. Aturan Etika Kompartemen Akuntan Publik bersumber dari Prinsip Etika yang ditetapkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia. Dalam konggresnya tahun 1973, Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) untuk pertama kalinya menetapkan kode etik bagi profesi akuntan Indonesia, kemudian disempurnakan dalam konggres IAI tahun 1981, 1986,1994, dan terakhir tahun 1998. Etika profesional yang dikeluarkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia dalam kongresnya tahun 1998 diberi nama Kode Etik Ikatan Akuntan Indonesia.
Akuntan publik adalah akuntan yang berpraktik dalam kantor akuntan publik, yang menyediakan berbagai jenis jasa yang diatur dalam Standar Profesional Akuntan Publik, yaitu auditing, atestasi, akuntansi dan review, dan jasa konsultansi. Auditor independen adalah akuntan publik yang melaksanakan penugasan audit atas laporan keuangan historis yang menyediakan jasa audit atas dasar standar auditing yang tercantum dalam Standar Profesional Akuntan Publik. Kode Etik Ikatan Akuntan Indonesia dijabarkan ke dalam Etika Kompartemen Akuntan Publik untuk mengatur perilaku akuntan yang menjadi anggota IAI yang berpraktik dalam profesi akuntan publik.

-         Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) 
Profesi akuntan publik (auditor independen)  memiliki tangggung jawab yang sangat besar dalam mengemban kepercayaan yang diberikan kepadanya oleh masyarakat (publik). Terdapat 3 (tiga) tanggung jawab akuntan publik dalam melaksanakan pekerjaannya yaitu :
a.      Tanggung jawab moral (moral responsibility).
Akuntan publik harus memiliki tanggung jawab moral untuk :
1).  Memberi informasi secara lengkap dan jujur mengenai perusahaan yang diaudit kepada pihak yng berwenang atas informasi tersebut, walaupun tidak ada sanksi terhadap tindakannya.
2). Mengambil keputusan yang bijaksana dan obyektif (objective) dengan kemahiran profesional (due professional care).
b.      Tanggung jawab profesional (professional responsibility).
Akuntan publik harus memiliki tanggung jawab profesional terhadap asosiasi profesi yang mewadahinya (rule professional conduct).
c.       Tanggung jawab hukum (legal responsibility).
Akuntan publik harus memiliki tanggung jawab diluar batas standar profesinya yaitu tanggung jawab terkait dengan hukum yang berlaku.Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) yang diterbitkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI)  dalam Standar Auditing Seksi 110, mengatur tentang “Tanggung Jawab dan Fungsi Auditor Independen”. Pada  paragraf 2, standar tersebut antara lain dinyatakan bahwa auditor bertanggung jawab untuk merencanakan dan melaksanakan audit untuk memperoleh keyakinan memadai tentang apakah laporan keuangan bebas dari salah saji material, baik yang disebabkan oleh kekeliruan atau kecurangan. Oleh karena sifat bukti audit dan karakteristik kecurangan, auditor dapat memperoleh keyakinan memadai, namun bukan mutlak. Bahwa salah saji material terdeteksi. Auditor tidak bertanggung jawab untuk merencanakan dan melaksanakan audit guna memperoleh keyakinan bahwa salah saji terdeteksi, baik yang disebabkan oleh kekeliruan atau kecurangan, yang tidak material terhadap laporan keuangan. 
                    d.         Pencegahan & Pendeteksian Fraud  
Fraudulent financial reporting di suatu perusahaan merupakan hal yang akan berpengaruh besar terhadap semua pihak yang mendasarkan keputusannya atas informasi dalam laporan keuangan  (financial statement) tersebut. Oleh karena  itu akuntan publik harus bisa menccegah dan mendeteksi lebih dini agar tidak terjadi fraud. Untuk mengetahui adanya fraud, biasanya ditunjukkan oleh timbulnya gejala-gejala (symptoms) berupa red flag (fraud indicators), misalnya perilaku tidak etis manajemen. Red  flag ini biasanya selalu muncul di setiap kasus kecurangan (fraud) yang terjadi.
Hasil penelitian Wilopo (2006) membuktikan serta mendukung hipotesis yang menyatakan bahwa perilaku tidak etis manajemen dan kecenderungan kecurangan akuntansi dapat diturunkan dengan meningkatkan kefektifan pengendalian internal, ketaatan aturan akuntansi, moralitas manajemen, serta menghilangkan asimetri informasi. Hasil penelitian Wilopo tersebut juga  menunjukkan bahwa  dalam upaya menghilangkan perilaku tidak etis manajemen dan kecenderungan kecurangan akuntansi memerlukan usaha yang menyeluruh, tidak secara partial. Menurut Wilopo, upaya menghilangkan perilaku tidak etis manajemen dan kecenderungan kecurangan akuntansi, antara lain :
·        Mengefektifkan pengendalian internal, termasuk penegakan hukum.
·         Perbaikan sistem pengawasan dan pengendalian.
·         Pelaksanaan good governance.
·        Memperbaiki moral dari pengelola perusahaan, yang diwujudkan dengan mengembangkan sikap komitmen terhadap perusahaan, negara dan masyarakat.
Sumber :
Ketut Rinjin, Etika Bisnis dan Implemantasinya, Gramedia Pustaka Utama Jakarta 2004
K. Bertens. 2000. Etika. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 25.]
Eka Darmaputera. 1987. Etika Sederhana Untuk Semua: Perkenalan Pertama. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 94.

Nama                      : Rina Wahyuni
Npm                        : 25210973
Kelas                      : 4EB22
Mata kuliah           : Etika Profesi Akuntansi     

Jumat, 21 Juni 2013

Tugas 4

QUESTION ....

* According to you, is it worthy for teenagers to have dating in their early years?
* What is the suitable age for dating?
* Is it okay it parents talking interference or dear children's relationship? In what way! 
* How will you know whether  you are suffering a kind of dating a 
* How come you solve those suffering
* In case you need any professional help, who would it be

     Menurut saya tidak wajar, karena diusia dini belum begitu mengenal mana perbuatan yang baik dan buruk untuk berkencan. Secara emosional pun usia dini masih dalam keadaan labil atu tidak stabil tepatnya usia dibawah 18 tahun kebawah. Usia yang pas untuk berkencan adalah 18 tahun keatas karena sudah bisa memilah milah mana yang baik dan buruk untuk dirinya. Usia 18 tahun ke atas juga sudah mulai beranjak dewasa yang dalam keadaan emosionalnya sudah mulai stabil. Usia 18 tahun keatas pun tahu batasan batasan dalam berkencan yang baik dan sehat.

   Kalau dibilang baik ambil andil sih baik tetapi orang tua juga harus ada batasannnya. Orang tua harus menasehati anak-anaknya supaya tidak terjerumus dalam hal berkencan yang tidak baik. Berikanlah pengarahan kepada mereka dan bercerita jika mereka sedang ada masalah dengan pasangannya berikan solusi untuk masalah mereka. Saya tahu kalau saya sedang merasakan kekerasan jika saya merasa sudah dikekang oleh pasangan dan jika hati saya sudah merasa tidak nyaman. Misalkan tidak boleh berhubungan dengan pria lain selain pacar saya, harus laporan kalu mau pergi dan jika pasangan saya sedang emosional.

    Solusinya adalah membatasi diri dari hal-hal yang bisa merugikan kita sebagai korban atau calon korban. Berfikiran dan melakukan hal-hal yang positif bersama teman-teman atau pasangan kita agar terhindar dari kekerasan dalam berkencan. Harus bisa memilah milah mana teman dan pasangan yang baik dan mana yang ingin menjerumuskan kita. Bantuan profesional pertama sebaiknya orang tua, kita harus ceritakan apa yang sebenarnya terjadi dengan masalah kita. Selanjutnya melaporkan ke HAM dan komnas perempuan jika korbannyakekerasannya itu seorang perempuan. Kita bisa bercerita apa yang kita alami dan kita rasakan dan biasanyakasus kekerasan akan di proses ke jalur hukum. Kekerasan dalam bentuk apapun tetap namanya kekerasan jadi kita terutama perempuan harus berhati-hati.

Nama     : Rina Wahyuni
Npm      : 25210973
Kelas     : 3EB22


Senin, 13 Mei 2013

Tugas 3

*Create With Photograph 10 INTERJECTION ( Written Expression)

  1. alas!
  2. pff!
  3. eh!
  4. hush!
  5. grr!
  6. oops!
  7. wow!
  8. eww!
  9. uh-huh!
  10. ouch! 

Nama              : Rina Wahyuni
Npm                : 25210973
Kelas              : 3EB22

Selasa, 23 April 2013

Tugas 2

Make a sentences of Simple Present Tense about your self!

I am Rina Wahyuni. Everyone call me Rina. But my father and mother call me 'ade'. I am twenty years old. I was born 19th June 1992. My hobby is cook. I use glasses an hijab. I like a classical music. My favorite group band in Maroon 5. Vocalist maroon 5 Adam Levine is very handsome. My Favorite classical music is often Canon In D Major by Johan Pachebel. The music makes me calm. I live in Bekasi. Bekasi is small town but have a too much mall. I am a last child of 3 brothers. I have got a nephew. He is a boy and he is very smart although new 5 year. I very like white roses. And i very like panda's. I study at Gunadarma University . I am 6th semester. I have best friend in college. They are very smart and friendly. Call them keybee' Keluarga bermain. 16th mei 2013 i and friend start mid test in the campus. After mid test i and sister go to Balikpapan. I want to Umroh together with my family next year amin. I hope all that is not healthy get well soon belong mother, father, and i. 


Rina Wahyuni
3EB22
25210973

Kamis, 07 Maret 2013

Tugas 1

*Make 3 Sentences (Positive, Negative, Interrogative) of Simple Present, Simple past, Simple Future, Present Continuous, Present Perfect!

Simple Present Tense
(+) The coffee tastes delicious.

(-) The coffee don’t tastes delicious.

(?) Do the coffee tastes delicious?


Simple Past Tense

(+) I went to Balikpapan last month.

(-) I didn't  go to Balikpapan last month.

(?) Did you go to Balikpapan last month?


Simple Future Tense

(+) I will go and shut it.

(-) I won’t go and shut it.

(?) Will you go and shut it?


Present Continuous Tense

(+) Rina is eating breakfast now.

(-) Rina isn't eating breakfast now.

(?) Is Rina eating breakfast now?


Present Perfect Tense

(+) We have already written our reports.

(-) We haven't already written our reports.

(?) Have we already written our reports?

Rina Wahyuni
3EB22
25210973

Selasa, 15 Januari 2013

Tugas Kelompok


JURNAL MANAJEMEN KEUANGAN


PENGERTIAN MANAJEMEN KEUANGAN
1.Pengertian Manajemen Keuangan mengalami perkembangan mulai dari pengertian manajemen yang hanya mengutamakan aktivitas memperoleh dana saja sampai yang mengutamakan aktivitas memperoleh dan menggunakan dana serta pengelolaan terhadap aktiva.Beberapa definisi manajemen keuangan diberikan sebagai berikut: 

  • Liefman: usaha untuk menyediakan uang dan menggunakan uang untuk mendapat atau memperoleh aktiva. 
  • Suad Husnan: manajemen terhadap fungsi-fungsi keuangan. 
  • Grestenberg: how business are organized to acquire funds, how they acquire funds, how the use them and how the prof ts business are distributed. 
  • James Van Horne: segala aktivitas yang berhubungan dengan perolehan, pendanaan dan pengelolaan aktiva dengan tujuan menyeluruh. 
  • Bambang Riyanto: keseluruhan aktivitas perusahaan yang berhubungan dengan us aha mendapatkan dana yang dip erlukan dengan b i aya yang minimal dan syaratsyarat yang paling menguntungkan beserta usaha untuk menggunakan dana tersebut seefisien mungkin. 

Pengertian diatas dapat ditarik beberapa kesimpulan bahwa manajemen keuangan berhubungan dengan tiga aktivitas (fungsi) utama: 

  1. Allocation of funds (aktivitas penggunaan dana) yaitu aktivitas untuk menginvestasikan dana pada berbagai aktiva. Alokasi dana berbentuk: Financial assets (aktiva finansial) yaitu selembar kertas berharga yang mempunyai nilai pasar karena mempunyai hak memperoleh penghasilan, misalnya: saham, sertif~kat deposito, atau obligasi.
  2. Real assets (aktiva riil) yaitu aktiva nyata: tanah, bangunan, peralatan.
  3. Raising of funds (aktivitas perolehan dana) yaitu aktivitas untuk mendapatkan sumber dana balk dari sumber internal perusahaan maupun sumber eksternal perusahaan, termasuk juga politik dividen. Sumber dana pada perusahaan secara keseluruhan: 
  4. Manajemen assets (aktivitas pengelolaan aktiva) yaitu setelah dana diperoleh dan dialokasikan dalam bentuk aktiva-aktiva harus dikelola seefisien mungkin. 

Tiga Keputusan Yang Diambil Manajemen Keuangan 

Ada tiga keputusan yaitu keputusan investasi, keputusan pendanaan, dan keputusan mengenai dividen. Kegiatan mencari alternatif sumber dana menimbulkan adanya arus kas masuk, sementara kegiatan mengalokasikan dana dan pembayaran dividen menimbulkan arus kas keluar, maka manajemen keuangan sering disebut manajemen aliran (arus) kas. Keterangan lebih lanjut dari masing-masing keputusan sebagai berikut: (Van Horne) 

  1. Financing dicision: keputusan pendanaan atau pembelanjaan pasif Implementasi dari rasing of funds, meliputi besarnya dana, jangka waktu penggunaan, asalnya dana serta, persyaratan-persyaratan yang timbul karena penarikan dana tersebut. Hasil financing dicision tercermin di sebelah kanan dari neraca. Raising of funds bisa diperoleh dari internal (modal sendiri) meliputi: saham preferen, saham biasa, laba ditahan dan cadangan, maupun eksternal (modal asing) jangka pendek maupun jangka panjang. Sumber dana jangka pendek, misalnya utang dagang (trade payable atau open account), utang wesel (notes payable), utang gaji, utang pajak. Sumber dana jangka panjang misalnya, utang bank, dan obligasi.
  2. Investmenf Dicision: keputusan investasi atau pembelanjaan aktif Implementasi dari allocation off funds. Allocation of funds bisa dalam jangka pendek dalam bentuk working capital, berupa aktiva lancar atau jangka panjang dalam bentuk capital investment, berupa aktiva tetap. Tercermin di sisi aktiva (kiri) sebuah neraca. Komposisi aktiva harus ditetapkan misalnya berapa aktiva total yang dialokasikan untuk kas atau persediaan, aktiva yang secara ekonomis tidak dapat dipertahankan harus dikurangi, dihilangkan atau diganti.
  3. Dividen Policy: keputusan mengenai dividen Berhubungan dengan penentuan prosentase dari keuntungan neto yang akan dibayarkan sebagai cash dividend. Penentuan stock dividen dan pembelian kembali saham.

Tanggung Jawab Staf Keuangan 

Tugas staf keuangan adalah mendapatkan dan mengoperasikan sumber-sumber daya sehinggadapat memaksimalkan nilai perusahaan dengan berbagai aktivitas (Brigham & Houston: 2006, 18) yaitu: 

  • Peramalan dan perencanaan: mengkoordinasi prose~s perencanaan yang akan membentuk masa depan perusahaan. 
  • Keputusan-keputusan investasi dan pendanaan: membantu menentukan tingkat penjualan perusahaan yang optimal, memutusakan aset spesifik yang harus diperoleh, dan memilih cara terbaik untuk mendanai aset. 
  • Koordinasi dan kontrol: berinteraksi dengan karyawan-karyawan lain untuk memastikan bahwa perusahaan telah beroperasi seefisien mungkin. 
  • Berinteraksi dengan pasar keuangan: berinteraksi untuk mendapatkan atau menanamkan dana perusahaan. 
  • Manajemen risiko: bertanggung jawab untuk program manajemen risiko secara lceseluruhan termasuk mengidentifiksi risiko dan kemudian mengelolanya secara efisien. 

Tujuan Manajemen Keuangan 

Manajemen keuangan yang efisien memenuhi adanya tujuan yang digunakan sebagai standar dalam memberi penilaian keefisienan (Sartono: 2000, 3) yaitu: 

  • Tujuan normatif manajemen keuangan adalah mazimization wealth of stockholders atau memaksimalkan kemakmuran pemegang saham yaitu memaksimalkan nilai perusahaan. Tujuan memaksimumkan kemakmuran pemegang saham dapat ditempuh dengan memaksimumkan nilai sekarang perusahaan. Secara konseptual jelas sebagai pedoman dalam pengambilan keputusan yang mempertimbangkan faktor risiko.Manajemen harus mempertimbangkan kepentingan pemilik, kreditor dan pihak lain yang berkaitan dengan perusahaan.Memaksimalkan kemakmuran pemegang saham lebih menekankan pada aliran kas daripada laba bersih dalam pengertian akuntansi.Tidak mengabaikan social objectives dan kewajiban sosial, seperti lingkungan eksternal, keselamatan kerja, dan keamanan produk.


  • Nilai perusahaan yang belum go-publik dapat diukur dengan harga jual seandainya perusahaan tersebut dijual. Jadi tidak hanya nilai asset (laporan di neraca) tetapi diperhitungkan juga tingkat risiko usaha, prospek perusahaan, manajemen lingkungan kerja dan sebagainya. Indikasi nilai perusahaan adalah: 

Perusahaan belum/tidak go-publik: harga seandainya perusahaan dijual
Perusahaan go-publik: harga saham yang dijual belikan di pasar modal.

Dari indikasi tersebut dapat ditarik pengertian: 

  1. Memaksimalisasi nllai perusahaan tidak sama dengan memaksimalisasi laba: Perusahaan bisa saja meningkatkan laba dengan cara mengeluarkan saham dengan hasll penjualan saham dlinvestaslkan pada deposlto atau obllgasl pemerintah. Dengan cara ini dijamin laba akan besar tetapl keuntungan per lembar saham akan menurun, karena jumlah lembar saham yang beredar bertambah, sehlngga kondlsl perusahaan tldak balk. Terminologl profit memlllki pengertian ganda, dlsebabkan terdapat banyak definlsl profit.
  2. Memaksimalkan nilai perusahaan tidak sama dengan memaksimalkan laba per~lembar saham (earning per share = EPS) alasannya: Tujuan memaksimalisasi laba tidak memperhatikan waktu dan lamanya keuntungan yang diharapkan.Tidak mempertimbangkan risiko atau ketidakpastian dari keuntungan di masa yang akan datang. Jika suatu usulan mengandung risiko yang besar, maka kenaikan keuntungan per lembar saham akan diikuti dengan penurunan harga saham.


Manajemen keuangan berhubungan dengan 3 aktivitas, yaitu :
  1. Aktivitas penggunaan dana, yaitu aktivitas untuk menginvestasikan dana pada berbagai aktiva.
  2. Aktivitas perolehan dana, yaitu aktivitas untuk mendapatkan sumber dana, baik dari sumber dana internal maupun sumber dana eksternal perusahaan
  3. Aktivitas pengelolaan aktiva, yaitu setelah dana diperoleh dan dialokasikan dalam bentuk aktiva, dana harus dikelola seefisien mungkin.

FUNGSI MANAJEMEN KEUANGAN
Berikut ini adalah penjelasan singkat dari fungsi Manajemen Keuangan:

  1. Perencanaan Keuangan, membuat rencana pemasukan dan pengeluaraan serta kegiatan-kegiatan lainnya untuk periode tertentu.
  2. Penganggaran Keuangan, tindak lanjut dari perencanaan keuangan dengan membuat detail pengeluaran dan pemasukan.
  3. Pengelolaan Keuangan, menggunakan dana perusahaan untuk memaksimalkan dana yang ada dengan berbagai cara.
  4. Pencarian Keuangan, mencari dan mengeksploitasi sumber dana yang ada untuk operasional kegiatan perusahaan.
  5. Penyimpanan Keuangan, mengumpulkan dana perusahaan serta menyimpan dan mengamankan dana tersebut.
  6. Pengendalian Keuangan, melakukan evaluasi serta perbaikan atas keuangan dan sistem keuangan pada perusahaan.
  7. Pemeriksaan Keuangan, melakukan audit internal atas keuangan perusahaan yang ada agar tidak terjadi penyimpangan.

Bila dikaitkan dengan tujuan ini, maka fungsi manajer keuangan meliputi hal-hal sebagai berikut :
1. Melakukan pengawasan atas biaya
2. Menetapkan kebijaksanaan harga
3. Meramalkan laba yang akan datang
4. Mengukur atau menjajaki biaya modal kerja

ANALISIS SUMBER DANA DAN PENGGUNAANNYA
Analisis sumber dana atau analisis dana merupakan hal yang sangat penting bagi manajer keuangan. Analisis ini bermanfaat untuk mengetahui bagaimana dana digunakan dan asal perolehan dana tersebut. Suatu laporan yang menggambarkan asal sumber dana dan penggunaan dana. Alat analisa yang bisa digunakan untuk mengetahui kondisi dan prestasi keuangan perusahaan adalah analisa rasio dan proporsional.

Langkah pertama dalam analisis sumber dan penggunaan dana adalah laporan perubahan yang disusun atas dasar dua neraca untuk dua waktu. Laporan tersebut menggambarkan perubahan dari masing-masing elemen tersebut yang mencerminkan adanya sumber atau penggunaan dana. Pada umumnya rasio keuangan yang dihitung bisa dikelompokkan menjadi enam jenis yaitu :

  1. Rasio Likuiditas, rasio ini untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban finansial jangka pendeknya.
  2. Rasio Leverage, rasio ini digunakan untuk mengukur seberapa banyak dana yang di-supply oleh pemilik perusahaan dalam proporsinya dengan dana yang diperoleh dari kreditur perusahaan.
  3. Rasio Aktivitas, rasio ini digunakan untuk mengukur efektivitas manajemen dalam menggunakan sumber dayanya. Semua rasio aktifitas melibatkan perbandingan antara tingkat penjualan dan investasi pada berbagai jenis harta.
  4. Rasio Profitabilitas, rasio ini digunakan untuk mengukur efektifitas manajemen yang dilihat dari laba yang dihasilkan terhadap penjualan dan investasi perusahaan.
  5. Rasio Pertumbuhan, rasio ini digunakan untuk mengukur seberapa baik perusahaan mempertahankan posisi ekonominya pertumbuhan ekonomi dan industri.
  6. Rasio Penilaian, rasio ini merupakan ukuran prestasi perusahaan yang paling lengkap oleh karena rasio tersebut mencemirkan kombinasi pengaruh dari rasio risiko dengan rasio hasil pengembalian
CONTOH KASUS

Pengertian Kinerja Keuangan 
Menurut Helfert (2000) kinerja keuangan adalah hasil dari banyak keputusan manajemen yang dibuat secara terus menerus oleh manajer. Penilaian kinerja keuangan perusahaan merupakan upaya untuk mengetahui prestasi yang ingin dicapai oleh perusahaan sebagai suatu unit usaha yang umumnya banyak dilakukan oleh pihak-pihak yang berkepentingan terhadap eksisitensi perusahaan.

Laporan Keuangan Sebagai Informasi Dalam Menilai Kinerja Perusahaan
Laporan keuangan yang disusun dan disajikan kepada semua pihak yang berkepentingan dengan eksisitensi suatu perusahaan, pada hakekatnya merupakan alat komunikasi. Artinya laporan keuangan itu adalah suatu alat yang digunakan untuk mengkomunikasikan informasi keuangan dari suatu perusahaan dan kegiatan­kegiatannya kepada mereka yang berkepentingan dengan perusahan tersebut.

Metode Pengukuran Kinerja Keuangan Perusahaan
  • Economic Value Added/EVA/Nilai Tambah Ekonomi 
Istilah Economic Value Added/EVA/Nilai Tambah Ekonomi pertama kali dipopulerkan oleh Stern Steward Management Service yang merupakan perusahaaan konsultan dari Amerika Serikat. Ukuran kinerja ini pertama kali diperkenalkan oleh George Bennet Steward III dan Joel M Stern yang merupakan analis keuangan Stern Steward (Utama, 1997). Menurut Mirza (1999) tolok ukur penilaian EVA dapat dinyatakan sebagai berikut:
  1. Apabila EVA > 0, berarti nilai EVA positif yang menunjukkan telah terjadi proses nilai tambah pada perusahaan.
  2.   Apabila EVA = 0 menunjukkan posisisi impas atau Break Event Point. 3) Apabila EVA < 0, yang berarti EVA negatif menunjukkan tidak terjadi proses nilai tambah.
Rumus untuk menghitung EVA menurut Brigham dan Houston (2001: 51): EVA = EBIT (1-Tarif Pajak) – (Total Modal) (Biaya Modal Setelah Pajak)
  • Market Value Added/MVA/Nilai Tambah Pasar.
MVA digunakan untuk mengukur seluruh pengaruh kinerja manajerial sejak perusahaan berdiri hingga sekarang. MVA yang dihasilkan oleh kinerja manajerial sepanjang umur perusahaan yang di-present value-kan (Mirza dan Imbuh, 1999). Tujuan dari perusahaan adalah menciptakan MVA yang positif, karena:
  1.  MVA > 0 maka manajemen telah berhasil memberikan nilai tambah kepada para penyandang dana.
  2. MVA < 0 maka perusahaan tidak berhasil memberikan nilai tambah kepada para penyandang dana.
Rumus menghitung MVA menurut Brigham dan Houston (2001:50):
MVA = (Saham yang beredar x Harga saham) – Total ekuitas saham biasa
  •  Rasio Profitabilitas
Profitabilitas adalah hasil bersih dari serangkaian kebijakan dan keputusan atau sekelompok rasio yang memperlihatkan pengaruh gabungan dari likuiditas, manajemen aktiva, dan hutang terhadap hasil operasi (Brigham dan Houston 2001:89)
Rasio profitabilitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
  1.  Operating Profit Margin/OPM/Marjin Laba Operasi merupakan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan keuntungan/laba bersih sebelum bunga dan pajak pada tingkat penjualan tertentu (Brealey, Myers, Marcus, 2006:8 1). Rumus untuk menghitung OPM (Brealey, Myers, Marcus, 2006:8 1): Operating Profit Margin/OPM = EBIT/Penjualan
  2.    Return on Asset/ROA/Pengembalian Atas Total Aktiva merupakan rasio laba bersih terhadap total aktiva untuk mengukur pengembalian atas total aktiva setelah bunga dan pajak (Brigham dan Houston 2001:90). Rumus untuk menghitung ROA (Brigham dan Houston, 2001: 90) Return on Asset/ROA = Laba Bersih/Total Aktiva
  3.    Return on Equity/ROE/Pengembalian atas Ekuitas Saham Biasa. Rasio laba bersih setelah bunga dan pajak terhadap ekuitas saham biasa. Rasio ini mengukur tingkat pengembalian atas investasi pemegang saham (Brigham dan Houston 2001:91). Rumus untuk menghitung ROE (Brigham dan Houston, 2001 : 91) Return On Equity/ROE = Laba Bersih/Ekuitas Saham biasa
  4.   Earning Per Share/EPS merupakan ukuran kemampuan perusahaan untuk menghasilkan keuntungan per lembar saham pemilik (Ciaran Walsh 2003:148). Formula yang digunakan untuk menghitung EPS adalah sebagai berikut (Ciaran Walsh 2003:148). Earning Per Share/EPS = EAT/jumlah lembar saham.
  5.   Return On Sales/ROS/Profit Margin On Sales/Marjin Laba atas Penjualan merupakan rasio untuk mengukur laba per rupiah penjualan (Brigham dan Houston 2001:89). Rumus untuk menghitung ROS (Brigham dan Houston 2001:89). Return On Sales/ROS = Laba bersih/Penjualan
Pengembangan Hipotesis
Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini :.
Ha : Ada perbedaan Economic Value Added/EVA, Market Value Added/MVA dan rasio­rasio profitabilitas dalam kinerja perusahaan pada perusahaan manufaktur dan non manufaktur di Bursa Efek Indonesia.
Ho : Tidak ada perperbedaan Economic Value Added/EVA, Market Value Added/MVA dan rasio-rasio profitabilitas dalam kinerja perusahaan pada perusahaan manufaktur dan non manufaktur di Bursa Efek Indonesia.
 METODE PENELITIAN
  •  Metode Pengumpulan Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data nominal dan rasio. Sumber data adalah data sekunder. Pengumpulan data dilakukan dengan cara Pooled, yaitu kombinasi dari time series dan cross section (Gujarati, 2003:4).
  • Populasi dan Sampel Penelitian
Dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah seluruh perusahaan publik yang terdaftar di BEI selama periode 2006 sampai 2008. Sampel penelitian ini adalah perusahaan manufaktur dan non manufaktur dan dipilih dengan menggunakan Purposive Sampling Method. Berdasarkan kriteria pengambilan sampel maka sampel penelitian terdiri dari 125 perusahaan manufaktur dan 80 perusahaan non manufaktur.
  •  Uji Normalitas Data
Pengujian kenormalan data dilakukan untuk mengetahui bahwa data yang dianalisis berdistribusi normal atau tidak. Uji kenormalan data dilakukan dengan pengujian Kolmogorov-Smirnov testdengan menetapkan derajat keyakinan (

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
  • Hasil Penelitian
 Proses pemilihan Sampel Penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan publik pada sektor manufaktur dan non manufaktur yang terdaftar di BEI selama periode 2006 sampai 2008 sebanyak 409 perusahaan. Berdasarkan kriteria pengambilan sampel, maka terdapat 205 perusahaan yang memenuhi syarat untuk dijadikan sampel penelitian terdiri dari 125 perusahaan manufaktur dan 80 perusahaan non manufaktur.
  • Analisis Data
Uji Normalitas Data
Uji normalitas dilakukan dengan menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov dengan kaidah keputusan P Value > 0,05 data dikatakan berdistribusi normal. Hasil pengujian normalitas data terlihat sebagai berikut:
Tabel 4.1 Hasil Uji Normalitas Data
Variabel                       Kolmogorov – Smirnov                                           Sig
EVA
9,736
0,000
MVA
9,827
0,000
OPM
5,574
0,000
ROA
12,574
0,000
ROE
3,994
0,000
EPS
12,598
0,000
ROS
7,240
0,000
Berdasarkan hasil pengujian tabel diatas diketahui bahwa dengan menggunakan 615 data (n = 615) diperoleh nilai P Value kurang dari 0,05 untuk masing-masing variabel yang diteliti. Hal ini berarti semua variabel dapat dinyatakan tidak berdistribusi normal. Karena dalam pengujian hipotesis menggunakan MANOVA yang menghendaki data berditribusi normal, maka harus dilakukan tindakan untuk menormalkan data yaitu dengan melakukan transformasi menggunakan akar kuadrat/SQRT (Ghozali 2006:32). Dari hasil uji SQRT terdapat beberapa data yang hilang/missing. Kemudian dilanjutkan dengan proses Missing Value untuk mengisi data yang hilang tersebut. Setelah melakukanMissing Value, maka diperoleh data normal yang lengkap. Kemudian dilanjutkan dengan uji MANOVA.

 Pembahasan
Hasil Perbandingan dan perbedaan penilaian EVA, MVA dan Rasio-rasio Profitabilitas dalam Kinerja Perusahaan antara Perusahaan Manufaktur dan Non Manufaktur di Bursa Efek Indonesia.Adapun gambaran mengenai hasil pengujian MANOVA Perusahaan Manufaktur dan Non Manufaktur dengan data yang berdistribusi nomal dapat dinyatakan sebagai berikut.

Tabel 4.2 Ringkasan Tests of Between-Subjects Effects
Variabel 
Type III Sum of Squares
F-hitung
Sig
EVA
.229
1.007
.316
MVA
.460
2.024
.155
OPM
1.876
1.007
.004
ROA
1.353
8.254
.015
ROE
253
5.954
.291
EPS
829
1.115
.057
ROS
1.423
3.646
.013
Berdasarkan tabel tersebut dapat dinyatakan bahwa dari ketujuh variabel yang diteliti secara univariat variabel yang signifikan adalah variabel OPM, ROA, dan ROS. Hal ini menunjukkan bahwa ada perbedaan variabel OPM, ROA, dan ROS antara perusahaan manufaktur dan non manufaktur. Dibuktikan dengan diperolehnya nilai signifikansi untuk variabel OPM, ROA, dan ROS lebih kecil dari 0,05. Sedangkan variabel EVA, MVA, ROE, dan EPS secara univariat variabel tidak signifikan dan tidak berbeda pada perusahaan manufaktur dan non manufaktur. Hal ini dibuktikan dengan diperolehnya nilai signifikansi untuk keempat variabel tersebut lebih besar dari 0,05. Berdasarkan hasil uji MANOVA diperoleh fungsi MANOVA yang dapat dinyatakan dalam tabel berikut
Tabel 4.3 Hasil Estimasi MANOVA
Variabel
Koefisien
t-hitung
Sig
Intercept
.795
14.543
.000
EVA
8.821E-5
1.004
.316
MVA
-3.095E-5
-1.423
.155
OPM
-.050
-2.873
.004
ROA
.059
2.440
.015
ROE
-.017
-1.056
.291
EPS
-.003
-1.909
.057
ROS
-.043
-2.502
.013

  • EVA yang paling adalah EVA dari perusahaan non manufaktur. Hal ini disebabkan karena laba operasi perusahaan non manufaktur lebih besar dibandingkan perusahaan manufaktur. Menurut Stewart (1993: 118-119)
  •  MVA yang paling baik adalah MVA dari perusahaan non manufaktur. Hal ini menandakan bahwa nilai pasar perusahaan lebih tinggi daripada nilai buku perusahaan sehingga investor tertarik untuk menanamkan modalnya pada perusahaan non manufaktur.
  • OPM yang paling baik adalah OPM dari perusahaan non manufaktur. OPM yang semakin tinggi menandakan semakin baik kinerja keuangan perusahaan, sehingga meningkatnya kemampuan dalam menghasilkan keuntungan setelah dibandingkan dengan penjualan yang dicapai lebih baik perusahaan non manufaktur daripada perusahaan manufaktur.
  •  ROA yang baik ditunjukkan oleh ROA dari perusahaan non manufaktur. Hal ini membuktikan bahwa kemampuan manajemen perusahaan mengoptimalkan asset yang digunakan untuk menghasilkan keuntungan semakin tinggi lebih baik ROA dari perusahaan manufaktur.
  •  ROE yang baik ditunjukkan oleh ROE dari perusahaan non manufaktur. Hal tersebut mencerminkan laba perusahaan non manufaktur tinggi. Semakin besar ROE mencerminkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan yang tinggi bagi pemegang saham.
  • EPS yang baik antara perusahaan manufaktur dan non manufaktur ditunjukkan oleh EPS dari perusahaan manufaktur. EPS perusahaan maufaktur yang semakin tinggi menandakan semakin baik kinerja keuangan perusahaan dibandingkan dengan kinerja keuangan perusahaan non manufaktur, karena meningkatnya kemampuan dalam menghasilkan keuntungan setelah dibandingkan dengan jumlah lembar saham.
  • ROS yang baik ditunjukkan oleh ROS dari perusahaan non manufaktur. ROS tinggi menunjukkan bahwa perusahaan memiliki kinerja keuangan yang baik dilihat dari segi penjualan. Pada perusahaan non manufaktur memiliki ROS tinggi karena biaya operasional pada perusahaan non manufaktur lebih rendah dibandingkan pada perusahaan manufaktur, terutama biaya tenaga kerja.
Kekuatan konsep EVA dan MVA adalah penciptaan nilai perusahaan dan manajemen dipaksa mengetahui beberapa the true cost of capital dari bisnisnya, sehingga tingkat pengembalian bersih dari modal bisa diperlihatkan secara jelas.


Referensi :


Nama Kelompok : (3EB22)
  1. Intan Permata
  2. Erma Ainun
  3. Rina Wahyuni
  4. Sri Mulyani
  5. Togar Kusuma
  6. Verawati